idealisme itu tersentak di garis start

IDEALISME ITU TERSENTAK DI GARIS START (part I)

Masuk ke dunia pekerjaan saya ini bagaikan masuk hutan rimba. Saya yang baru lulus fakultas kedokteran swasta, dan baru lulus dari ujian kompetesi dokter se-Indonesia (sebuah legalitas bagi kami lulusan fk swasta bahwa kami pun sama), memberanikan diri merantau ke pulau seberang, pulau dimana populasi orang utan menjadi primadona bagi para ilmuwan di dunia harus dibantai demi lahan kelapa sawit, pulau kalimantan. Tidak bertetangga dg rumah ‘orang utan’, tapi provinsi samping timurnya, kalimantan selatan. Tak beda jauh dengan tetangganya, isu kerusakan lingkungan akibat pertambangan batu bara pun menyeruak.

Kenapa kalimantan? Karena satu2nya tempat saya bisa kerja menjadi dokter PTT hanya di kalimantan.

 Orang tua mengijinkan di pulau ini agar lebih mudah dijenguk. Yah memang hampir 5 tahun , dari tahun 1991-1996 sy di pulau ini, mengeyam pendidikan SD di 3 tempat berbeda. Masih banyak kawan orang tua disana, jadi memudahkan saya ‘dititipkan’ agar orang tua lebih ayem. Baiklah keinginan saya untuk menjelajah papua, maluku, nusa tenggara harus pupus. Ya buat saya lebih baik begini daripada tidak sama sekali.

Saya melamar ke dinas kesehatan salah satu kabupaten di Kal Sel, sebagai dokter PTT daerah, dengan diantar oleh ayah saya. Jujur saja, ayah saya kenal dengan bupati dari kabupaten ini, saya kembali ‘dititipkan’. Kenal karena hubungan bisnis, ya begitulah, ayah saya dengan temannya bermitra untuk menjalankan bisnis tambang walaupun sdh hampir 5 tahun tdk ada hasilnya karena terbentur proses perijinan dan manajemen bisnis yang kacau. Sebagai seorang dokter yg baru lulus tdk etis kl saat melamar sudah ‘ngarani’ minta ditempatkan dimana. Saya utarakan mungkin tujuan ke depan agar saya bisa sekolah lagi. Entah karena keistimewaan ayah saya atau memang diperlukan (sejauh ini yang sy tahu karena dibutuhkan), saya ditempatkan di RSUD (Rumah Sakit Umum Daerah), sekarang BLUD(Badan Layanan Umum Daerah). Jangan tanya saya apa perbedaan instansi dari RSUD menjadi BLUD karena bagi kami fungsional perbedaan itu tidak begitu terasa.

Impian saya setelah lulus itu cm satu, saya bisa jadi dokter puskesmas di sebuah desa terpencil, berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Kecintaan saya dengan dunia pendidikan bisa saya salurkan dengan membagi buku-buku yang sudah lama sy kumpulkan, membantu anak-anak disana agar bisa ‘bermimpi’ karena tanpa mimpi semua terasa sulit untuk diraih. Apa dikata, saya tidak ditempatkan di puskesmas tapi di RSUD. Saya lumayan shock, karena jujur sy tidak siap bertugas di RSUD. Merasa belum cukup ilmulah lebih tepatnya, ya apapun itu alasannya saya mau tidak mau harus mempersiapkan bekal “skill” dan “mental”. Padahal kalau sy memikirkan lagi, apa bedanya di RS dan di puskesmas? Justru di puskesmas yg banyak anggapan “bisa santai” menurut saya salah besar. Tanggung jawab di puskesmas jauh lebih kompleks dibanding di RS. RS tidak bertanggung jawab pada lingkungan sekitar, puskesmas harus menguasai permasalahan di cakupannya. Terlihat kecil, hanya 1 kecamatan. Hey, di kalimantan 1 kecamatan besarnya bisa 2-3x kecamatan di pulau jawa. Yah seingat saya sih pembentukan puskesmas berdasarkan jumlah populasi masyarakat , kalau tidak salah.

Kehidupan awal saya di kalimantan tidak jauh beda dari di jawa, nah dari point ini saya sering dapat “hujatan” dari teman2 sejawat, “dokter ptt kq enak banget, rumah kontrakan, bawa kendaraan pribadi lagi..ccck..cck..cck..itu namanya pindah rumah”. Ya mau bagaimana lagi sy anggaop ini rejeki, mungkin karena saya anak perempuan kedua yang masih lajang, orang tua merasa bertanggung jawab penuh pada diri saya, terima aja lah toh tidak ada yang salah..hehehe.
Nama kota dari kabupaten saya, maaf tidak bisa saya sebutkan, karena RSUD Cuma ada satu di kabupaten ini. RSUD ini tipe D ke C, hehehe ini jawaban yang saya terima saat saya diajak berkeliling oleh Kabid (kepala bidang) Pelayanan. Entahlah sampai saat ini kriteria RS tipe A-D sy juga belum terlalu banyak tahu, yang pasti dari segi ketersediaan fasilitas sampai tenaga dokter spesialis merupakan salah satu kriterianya. Yang pasti hanya ada 4 dokter spesialis mayor (bedah, obgyn, anak, ilmu penyakit dalam),1 dokter spesialis mata (hanya sebagai dokter tamu yang datang 2x seminggu), 2 dokter gigi, 7 dokter umum (termasuk saya). Fasilitas ada 6 bangsal termasuk ICU (kata salah satu dokter spesialis kategorinya ICU abal2, hehehe) dan VIP, radiologi, laboratorium, ruang operasi, dan tempat saya bertaruh atas semua jerih payah keilmuan yg saya dapatkan yaitu UGD 24 jam.

Awal saya bertugas di RSUD ini, hanya satu doa saya, diberi kesehatan dan kemampuan. Saya kaget dengan ritme kerjanya, saya pikir yang bekerja hampir 22 – 24 jam hanya saat saya menempuh pendidikan klinik (bc:koass), saya maklum karena tenaga kami kekurangan dan kalau mengikuti ritme kerja yg normal yaitu ada 3 shift masing2 kisaran 8 jam pasti waktu istirahatnya akan jauh lebih pendek. Sebagai anak baru tidak berani protes atau berkeluh kesah, pantang bagi saya, karena bagi saya berkeluh kesah menandakan kita kalah sebelum bertanding. Mencoba menjalani dengan sebaik2nya itu jauh lebih terhormat. Selain itu saya dikelilingi oleh teman2 yang sangat solid, tak pelit ilmu apalagi dengan saya yg notabene dokter baru yang minim skill maupun pengalaman, yang awalnya sangat berat saya rasakan 2 bulan pertama ‘setengah’ berat hehehe. Ya iming2 uang jaga juga sangat membantu karena bagi kami wajar, secara perhitungan beban kerja , beban kerja kami jauh di atas beban kerja normal. Entahlah bagaimana harus menilai semua ini, jujur saya bukan tipe orang yang ngoyo dalam bekerja, saya cenderung ingin begitu menikmati pekerjaan saya.

Beban kerja yang berlebihan secara langsung berpengaruh terhadap kinerja. Oke, di RSUD ini bila kebagian jatah poli pagi (umum atau bedah, tergantung pembagiannya) maka saya harus bekerja dari jam 08.00-12.00 (waktu pelayanan) tapi ketentuan sampai 14.00, nah kalau saya kebagian shift sore dan malam maka setelah jam 14.00 saya jaga UGD sampai jam 08.00 besoknya, dan tetap masuk pagi poli (08.00-12.00). Mari berhitung, pastinya lebih dari 24 jam bukan? Akan jauh lebih melelahkan kalau kami kebagian shift UGD pagi selama sebulan, dan pasti ada jatah jaga sore-malam, bayangkan kami jaga pagi ugd lanjut sore-malam sampai bsk paginya lanjut lagi shif pagi, yak betul sekali saya bisa dipastikan bekerja 30jam. Hebatnya adalah (ya semua memang tergantung dari niat maka Tuhan beri kekuatan), saya tidak pernah sakit selama menjalani pola kerja seperti itu. Tapi terkadang rasa capek yang begitu dahsyat (jam capek saya itu diatas jam 12 malam -05.00) sy tidak bisa menghindarinya, dan semua akan tampak pada mood dan ritme kerja saya.

Fase itu terkadang tidak bisa saya hindari (dalam hati saya berdoa semoga Tuhan ampuni). Bukan hanya mood, celakanya itu berpengaruh terhadap diagnosa kami, tapi syukurnya adalah sy belum dan jangan sampai mengalami kesalahan mendiagnosa, ah Tuhan kan Maha Tahu hambaNya bukan??. Pernah saya utarakan ke manajemen, jawabannya karena sedikit dokter yang mendaftar unt bekerja di RS ini. Awal bekerja saya masih sangat lugu, saya berpikir mungkin karena tempatnya jauh sehingga jarang teman2 yang berminat. Well, kalau saat ini saya bisa berkomentar, kekurangan tenaga bisa karena “salary” yang tidak bagus atau jaminan aturan kepegawaian yang kacau, kedua poin itu terjadi disini. Kenapa bisa ada dua poin tersebut??? Panjang ceritanya….

Sindrom “dokter baru lulus” dan jobless betul-betul saya rasakan, maka 1 bulan sejak saya mengirimkan lamaran saya saya memberanikan diri telepon ke Kabid pelayanan RSUD, karena sebelumnya saya diinfokan bahwa saya diterima di RSUD bukan di puskesmas.Akhir bulan april tepatnya saya telepon kembali, saya tanya kapan saya bisa bekerja, beliau bilang bagaimana kalau “minggu depannya”, wow!! Saya bersemangat sampai tidak menghiraukan saran ayah saya bahwa sebaiknya menunggu SK turun, tapi karena saya sudah merasa tidak nyaman menganggur maka saya memaksakan diri agar saya bisa segera berangkat. Yak, saya pun berangkat diantar kedua orang tua saya, yah anggap saja 3 orang berangkat akan menghemat biaya bagasi saya yg overload, lebih dari 20kg pastinya. Itu pun saya masih kelebihan, total harus membayar 250ribu lagi untuk overbagasi. Baiklah, singkatnya saya diterima bekerja bulan mei 2010, untuk kelengkapan STR (surat tanda registrasi) memang belum ada karena belum dikirim dari jakarta. Sudah saya utarakan, kebetulan saya membawa surat keterangan lulus UKDI (Uji Kompetensi Dokter Indonesia) apakah bisa sebagai jaminan, dan tidak ada masalah hanya sesegera mungkin saja. 2minggu kemudian STR saya datang dan baru saya diijinkan secara mandiri “pegang” pasien. Oke, karena sindrom dokter baru, maka selama 4 bulan saya “anteng” (tenang, bhs jawa) tidak menanyakan kemanakah uang tunjangan saya.

Berhubung dokter ptt di RSUD saat itu hanya saya maka saya pikir pemberian uang tunjangan sama dengan dokter lainnya yang CPNS dan PNS, yaitu kisaran 3-4 bulan sekali. Ya sudah selama 4 bulan saya tidak menanyakan sampai akhirnya pada bulan akhir agustus saat tunjangan daerah teman2 yang CPNS dan PNS keluar saya baru tahu, ternyata sebagai dokter PTT daerah saya hanya mendapatkan gaji saja sebesar 1,5 juta. Wow, saya kaget setengah mati, karena tidak sesuai dengan apa yang dijanjikan oleh Kabid Pelayanan saat saya masuk. Sebenarnya kalau saya jeli sedikit di SK saya memang hanya dituliskan gaji saja sebesar 1,5 juta, tidak ada keterangan tunjangan daerah. Bodohnya adalah saya menganggap bahwa tunjangan daerah tidak perlu SK…ya baiklah kesengsaraan karena ulah sendiri namanya.

Saat itu bulan September, selama hampir 2-4 minggu saya berunding dengan koordinator dokter umum dan teman2 sejawat dokter umum mengenai langkah yg harus saya ambil (momen ini bikin saya sadar teman2 sejawat di kalimantan keluarga kedua bagi saya), lalu disampaikan ke direktur RSUD, saat itu yang menjabat mantan Kabid Pelayanan jadi beliau paham dengan permasalahan. Yang lebih menyayat hati adalah, dokter2 PTT sebelum saya mengalami hal yang sama tapi uang itu diambil dari dinkes, (sy kurang paham prosedurnya). Pokoknya saat saya bertugas RSUD sudah tidak dibawah Dinkes jadi lebih independen. Kasus yang saya alami ini pun jauh berbeda (klaim manajemen RSUD).

Setelah melalui beberapa tahap perundingan jelas sekali semua ini karena masalah administratif yang kacau, uang untuk Tunjangan Daerah sy sebenarnya ada tapi tidak bisa dikeluarkan karena masalah “nomor rekening” (ah saya tidak terlalu paham, bagi saya uang itu ada atau tidak ada di rekening, tak berbeda jauh kalau pada kenyataannya tidak saya terima). Alasan itu ibarat kita lapar, nasi itu “katanya” di lemari kayu yang tidak transparan, terkunci dan tidak tahu kuncinya dimana. Dari beberapa kesepakatan yang diambil, semua rasanya kok “mentok”. Maaf saya tidak terlalu paham dengan birokrasi yang saya tahu saya hanya meminta hak saya. Akhirnya jalan terakhir yang ditempuh adalah saya harus membuat SK kedua untuk tunjangan daerah saya. Dan….ini tidak mudah, karena “belum ada contohnya”. Entah mengapa saya khawatir karena ini menyangkut urusan hukum dan pastinya sulit karena harus mencari aturan hukumnya.

Proses sampai pada pembuatan SK baru sebenarnya cukup panjang, karena awalnya solusi ini tidak dicuatkan. Opsi awal yang diajukan saya tetap menerima uang tunjangan tp sumber uang itu dari rekening lain (maaf saya tidak terlalu paham), yang pada intinya apabila ada “temuan” dari BPKP saya harus bersedia mengembalikan ke RS. Oke, bagaimana rasanya hak yang harusnya saya terima suatu saat harus saya kembalikan. Aduh saya sampai sulit bagaimana mengibaratkannya. Tanpa berpikir panjang saya menolak opsi ini. Dengan lancangnya, saya berani mengambil resiko bahwa bila hanya opsi itu yang tersedia maka lebih baik saya mengundurkan diri. Bayangkan saja saya dokter termuda, sendiri di perantauan, berani mengambil langkah sedikit jual mahal. Walaupun orang tua berat hati awalnya karena mereka bersedia mendukung saya, biaya hidup ditanggung. Buat saya itu justru lebih memalukan, bekerja tapi tak bisa menghidupi diri sendiri. Tapi teman2 sejawat mendukung penuh langkah saya. Berat tapi saya memberikan jangka waktu bagi manajemen selama 1 bulan untuk menyelesaikan kalau tidak saya terpaksa mengundurkan diri.

Dalam hati saya sebenarnya melihat ini bukan masalah nominal melulu, memang tunjangan itu besarnya sama dengan gaji saya sebesar 1,5 juta. Dan hidup di kalimantan sulit bila hanya dengan 1,5 juta saja. Lebih baik saya pulang ke jawa tinggal dengan orangtua saya bekerja dengan upah sebesar itu, saya sanggup. Lebih dari permasalahan besarnya uang yg saya terima, penghargaan terhadap profesi ini jauh lebih penting. Apa yang saya korbankan, perihnya melalui semua tahap menjadi seorang dokter begitu sangat saya hargai. Penghargaan terhadap diri sendiri jauh lebih berharga, siapa lagi yang akan menghargai diri sendiri kalau bukan diri ini? Menjadi seorang dokter bukan perkara mudah bagi saya jadi saya jg tidak mau keberadaan saya digampangkan oleh orang lain.
Terkesan arogan, sombong atau apalah itu namanya tapi menurut saya, kesabaran (bc: kebodohan) selama 5 bulan (4bulan karena ketidaktahuan+1bulan menunggu SK rampung) sudah sangat cukup, jadi selama 1 bulan tak terhitung berapa kali saya bolak balik ke lantai2 (lantai kantor manajemen RS) menanyakan sudah sejauh mana proses saya berjalan. Pantang bagi saya memperlihatkan ketidaksukaan saya pada awalnya, tapi kalau ketidaksukaan ditampakkan setelah keramahan saya bertanya, maaf sikap yang jauh tidak ramah terpaksa saya kasih (lo jual gua beli).

Oktober 2010, saya lupa tanggal berapa tapi saat itu saya sedang menghadap direktur RS, kabar gembira bahwa SK saya disahkan. Wah senang nya saya , perjuangan selama ini tidak sia-sia. Tapi, tidak sepenuhnya kabar gembira, ternyata yang dibayarkan adalah tunjangan setelah 4bulan saya bekerja. Ibaratnya setengah keringat saya selama 6 bulan menguap tak tersisa. Kaget, campur kecewa, rasa syukur karena sikap “idealisme” saya tidak sia-sia bercampur gak karuan. Tapi saya menghargai upaya direktur yang tetap memperjuangkan ke biro hukum karena tidak ada SK yang berlaku surut. Ya wajar namanya manusia pasti ada rasa kecewa karena menurut saya dan orang2 sekitar, “it’s not my fault” dan itu harga mati. Biarlah manajemen yang pusing (dalam hati beranggapan seperti itu).

Selama proses “kecewa” yg mungkin awal pembelajaran hidup, saya tetap profesional, kinerja saya tidak saya kendorkan hanya karena masalah “penghargaan”. Pasien dan keluarga pasien tak perlu mengeluh karena dokternya “tidak semangat” bekerja. Justru mereka lah semangat saya untuk bertahan dan menunaikan komitmen kewajiban saya. Klise? Pasti apalagi yang tidak bisa merasakan bagaimana “kekacauan” UGD yang kadang bisa menguras habis tenaga dan emosi, tapi senyum yang teramat sangat puas saat “kekacauan” itu berakhir dengan indah (bc:selamat bagi pasien dan senyuman bagi keluarga pasien). Memang kadang kekacauan itu tidak “happy ending” melulu, “sad ending” datang awalnya dirasakan saat pasien itu gagal diselamatkan dengan berbagai faktor mungkin karena prosedur, obat2an, alat2 penunjang, skill yang terbatas. Semangat belajar selalu datang saat faktor terakhir mungkin jadi andil, hikmah ini lah yang harus selalu ada selain rasa penyesalan karena tidak mampu menolong mereka (bc:pasien).

Syukurnya, saat melalui proses kecewa itu, saya memiliki ibu yang selalu mendukung saya, teman2 yang selalu ada dan bersedia berbagi hati dengan saya. Sebuah rasa kecewa yang wajar saat apa yang kita usahakan tidak memberikan hasil seperti yang kita harapkan apalagi saya yang berniat ingin melanjutkan sekolah S2 dan itu memerlukan biaya yang banyak, keinginan menabung sejak dini sudah harus saya lakukan. Nasehat dari seorang ibu memang mengalahkan kata2 bijak sekelas motivator “Mario Teguh”, rejeki sudah ada yang mengatur sekeras apapun diusahakan pasti muaranya sebesar IA menakarkan untuk kita, ambil hikmahnya mungkin perjuangan saya memberikan kemudahan bagi dokter2 ptt baru yang akan mendaftar. Berat untuk ikhlas tapi harus saya amini semua kata2 sang ibu. Saya pun mengutarakan ke direktur bahwa saya tidak keberatan apabila SK ini berlaku surut dengan konsekuensi apa yang saya terima hanya setelah 4 bulan saya bekerja tapi dengan sebuah catatan yang cukup saya garis bawahi dengan spidol hitam, apa yang saya alami tidak boleh terulang lagi. Suatu kebodohan yang sangat teramat tragis (bodoh yang tragis) apabila manajeman mengulangi hal yang sama. Proses ini bisa saya sebut proses “ikhlas”.

Selang seminggu dari “proses ikhlas” saya itu, kabar gembira datang bahwa SK bisa berlaku surut. Wow, saya senang bukan kepalang, tidak menyangka karena say sudah ikhlas atas apa yang tidak bisa saya raih. Tuhan hanya menguji sejauh mana rasa ikhlas kita, karena pada akhirnya Ia yang menentukan baik atau tidak semua yang kita minta. Mungkin hak saya itu IA anggap baik dan memang hak saya. Sebuah perjuangan yang tidak kenal kompromi atas sebuah penghargaan profesi berakhir manis , idealisme yang tidak bisa tergadaikan dengan jaminan tidak ada kesombongan tapi proses ikhlas walaupun rasa kecewa mengawali semuanya telah saya rasakan. Bisa saya katakan, awal dari idealisme yang tersentak di garis startnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s